Sebagai perempuan..
saya pernah menjadi orang paling menyebalkan dan bajingan. Dimana pernah
membuang waktu, menyianyiakan cinta seorang Ayah, membiarkan kesempatan hilang
dari genggaman dan masih banyak lagi. Singkatanya saya bebal. Saya
beritahu satu hal, sejak pertengahan Juli tahun 2014 lalu saya mengucap nawaitu
untuk lebih dekat dengan Tuhan dan berusaha menghindari apa- apa yang nilainya
kurang baik. Kenapa kira- kira? Karena saya capek jadi manusia kurang ajar dan
lama- lama rasanya selalu ada rasa kosong yang paling sakit. Bukan untuk sok
membuat kesan baik tidak.. saya masih bedebah yang tidak tahu diri yang hobi
mencaci hidup dengan kalimat paling edan, yang masih suka mendengarkan lirik
dan musik pada lagu brengsek. Masih doyan berpelukan dengan kamu tanpa malu dan
masih orang yang menyukai film fantasi disaat semua orang banyak yang suka true story.
Sebenarnya dari tadi
yang ingin saya katakan adalah betapa sangat berpengaruhnya orang lain dalam
kehidupan yang secara tidak langsung mengubah kita. Semua perubahan yang saya
sumpahkan itu demi satu tujuan untuk membangun kerajaan yang saya bangun
sekarang bersama seseorang, dan jujuuuurr… dia sangat mempengaruhi hidup saya. Disini
ada beberapa hal yang kita akan bersepakat sama. Misalnya lirik pada musik yang
ada dalam lagu yang kita dengar, dan betapa berpengaruhnya musik dalam
keseharian bagi saya khususnya dan sebagian besar orang pada umum nya, yang
kita pilih untuk didengar karena alasan lirik nya, bukan pada beat atau bahkan nadanya begitu
kemungkinan saya… dan semua itu mungkin hampir sama dengan pengaruhnya seseorang
dalam kehidupan kita.
Terakhir, sampai saat
ini saya merasa masih bajingan perbedaannya saya beruntung, karena pengaruh
kuasa Tuhan utamanya lewat seseorang yang tanpa dia harus banyak bicara dan
hanya cukup bersikap apa adanya membuat saya berani mengakui kesalahan sendiri.
Sekedar pengingat, membuat kesalahan itu sebenarnya bukan hal yang sangat
memalukan dan sebuah akhir dunia bukan… yang lebih memalukan lagi jika diri
kita sendiri malu mengakui kesalahan dan malu memaafkan diri sendiri yang
seandainya bisa hal itu kemudian berbuah hikmah jika mau mendalami. Karena itu
saya bersumpah memperbaiki diri demi kehidupan kedepan nanti juga demi bagaimana
saya akan bisa urus anak sendiri, keluarga, terlebih kamu selalu.
Tyas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar